Moluccas International Campaign for Human Rights
  • THESE ARE THE MOLUCCAN ISLANDS: FACTS & OPINIONS
  • MELANESIA VERSUS INDONESIA
  • ABOUT MOLUCCAS INTERNATIONAL CAMPAIGN FOR HUMAN RIGHTS
  • REPRESSION OF A BASIC HUMAN RIGHT IN MALUKU: FREEDOM OF POLITICAL EXPRESSION
  • SOUTH MOLUCCAS ISLANDS’ ILLEGAL OCCUPATION BY JAKARTA
  • MOLUCCAS SOVEREIGNTY FRONT - FRONT KEDAULATAN MALUKU (FKM)
  • LETTERS DR. ALEXANDER H. MANUPUTTY TO THE UN & HEADS OF STATE AND GOVERNMENT AND AMNESTY INTERNATIONAL
  • PROKLAMASI NEGARA REPUBLIK MALUKU SELATAN (RMS)
  • INDONESIA: A SYSTEM BUILT ON CORRUPTION
  • INDONESIA GELAP‼️DARK INDONESIA
  • PRABOWO SUBIANTO: INDONESIA’S MASSACRE GENERAL
  • OTORITARISME MEMBAYANGI INDONESIA DI BAWAH KEPEMIMPINAN PRABOWO ‼️
  • PRABOWO’S INDONESIA: ​A RETURN TO MILITARY SUPREMACY ‼️
  • KORUPSI - KEMISKINAN DAN KETERBELAKANGAN DI MALUKU - CORRUPTION - POVERTY AND UNDERDEVELOPMENT IN THE MOLUCCAS
  • PALM OIL PLANTATION CRIME IN INDONESIA AND ITS CORRUPT POLITICAL MACHINE
  • INDONESIAN STATE SPONSORED UNBRIDLED NICKEL EXPLOITATION IN NORTH MOLUCCAS: SERVING THE ECONOMIC INTEREST OF INDONESIAN OLIGARCHS AND CHINA
  • 🚩🚩 JAKARTA’S LEGAL PLUNDER OF THE MALUKU SEA ❗️
  • MOTHER ISLAND SERAM UNDER SIEGE ‼️
  • 🚩🚩🚩 THE AUCTION OF 100 ​MOLUCCAN ISLANDS
  • MASELA - OIL AND GAS BLOCKS CAN LIBERATE MALUKU FROM POVERTY
  • ILLEGAL GOLD RUSH ON BURU ISLAND IN THE MOLUCCAS
  • LAND GRABBING, MINING, FOOD ESTATE, PALM OIL & ENVIRONMENTAL CRIME IN MALUKU
  • SAVE ARU ISLANDS
  • SAVE MASYARAKAT ADAT DALAM MENJAGA HUTAN KEPULAUAN ARU
  • SAVE KEI BESAR DARI EXPLOITASI PENAMBANGAN ‼️
  • MALUKU BARAT DAYA - ‼️SUMBER DAYA ALAM YANG DIEKSPLOITASI DAN DISAMARKAN
  • SAVE ROMANG
  • MALUKU BUKAN TANAH PENDATANG.
  • INDONESIAN MILITARY INVOLVEMENT WITH AGGRESSIVE MINING, ILLEGAL LOGGING AND ILLEGAL FISHING IN THE MOLUCCAS
  • LASKAR JIHAD - SUHARTO COMPANIONS AND THE MOLUCCAN CIVIL WAR - JUSTICE DEMAND
  • MOLUCCAS: GENOCIDE ON THE SLY - INDONESIA’S TRANSMIGRATION PROGRAM
  • TRANSMIGRASI ADALAH ANCAMAN LATEN TERHADAP EKSISTENSI GEOGRAFI, EKONOMI DAN SOSIAL POLITIK RAKYAT MALUKU DALAM JANGKA PANJANG
  • ECOLOGY & SUSTAINABLE DEVELOPMENT IN THE MOLUCCAS
  • DISPLACED PEOPLE IN THE MOLUCCAS - PENGUNGSI DI MALUKU
  • INSIDE INDONESIA’S WAR ON TERROR
  • TNI, BRIMOB AND STATE TERROR IN THE MOLUCCAS
  • IMPUNITY AND THE INDONESIAN MASTERS OF TERROR
  • STOP KILLING - ASSAULTING AND KIDNAPPING JOURNALISTS IN INDONESIA ‼️
  • 8 MARCH INTERNATIONAL WOMEN'S DAY
  • 26 JUNE UN INTERNATIONAL DAY IN SUPPORT OF VICTIMS OF TORTURE
  • 9 AUGUST - UN INTERNATIONAL DAY OF THE WORLD’S INDIGENOUS PEOPLES
  • RIGHTS OF INDIGENOUS PEOPLES - HAK ASASI MASYARAKAT ADAT
  • THE DUTCH - INDONESIA CORPORATE CONNECTION
  • LIBERATING OUR COLONIAL MINDSET
  • UNPO: IN PURSUIT OF THE RIGHT TO SELF-DETERMINATION
  • NKRI DIDIRIKAN DI ATAS KONSEP YANG SALAH
  • FKM - RMS ADALAH API PERJUANGAN DARI DALAM NEGARA RMS 25 APRIL 1950
  • GAJAH DENGAN GAJAH BERLAGA, ORANG MALUKU MATI DI TENGAH - TENGAH
  • 🚩THE PLAYERS BEHIND THE MALUKU MADNESS
  • THE IMPACTS OF CLIMATE CRISIS ON SMALL ISLANDS STATES
  • 🔹♦️PACIFIC DECOLONIZATION AND SUSTAINABILITY
  • OPEN LETTER TO PRESIDENT ​JOKO WIDODO
  • SURAT TERBUKA KEPADA ​PRESIDEN JOKO WIDODO
  • FILM "DIRTY VOTE"! TERBONGKAR SEMUA SKENARIO CURANG!
  • FILM DIRTY VOTE II O3 ‼️TERBONGKAR KARTU-KARTU POLITIK OLIGARKI ‼️
  • MALUKU FOR KANAKY
  • PILKADA 2024 BONEKA PARPOL & OLIGARKI
  • KUTUKAN NIKEL | BLOODY NICKEL
  • “BLOODY NICKEL THE SERIES: REPUBLIK RENTE”
  • PESTA OLIGARKI
  • SURAT TERBUKA KEPADA SELURUH RAKYAT BANGSA MALUKU
  • PESAN NATAL DAN TAHUN BARU BAGI SELURUH ​ANAK BANGSA MALUKU
  • CONGRATULATIONS TO PRESIDENT TRUMP AFTER HIS INAUGURATION
  • THE NUTMEG’S CURSE: ​PARABLES FOR A PLANET IN CRISIS

REPUBLIK INDONESIA SERIKAT

UNITED STATES OF INDONESIA

Picture
Mohammad Hatta dan Gagasan Negara Federasi: Mencegah Jawa Menjajah Indonesia
oleh Priya Husada | XY ZONE Media 02/08/2025
Picture
Mohammad Hatta, Proklamator Indonesia
Di balik narasi tunggal “Negara Kesatuan”, Bung Hatta pernah memperjuangkan bentuk federasi demi keadilan antar daerah. Gagasan itu kini kembali relevan di tengah sentralisasi kekuasaan yang kian mencolok.
“Indonesia harus dibangun dari bawah. Dari desa, dari kampung, dari masyarakat adat. Kalau tidak, maka kita hanya mengganti penjajah, bukan menghapus penjajahan.” (Mohammad Hatta)
XYZonemedia - Agustus adalah bulan proklamasi. Tapi juga bulan yang sebaiknya dipakai untuk merenung. Apakah bentuk negara kita, yang selama ini kita terima sebagai “kodrat sejarah”, benar-benar pilihan terbaik? Mohammad Hatta, sang proklamator yang kerap luput dari ingatan publik di balik bayang-bayang Soekarno, pernah mewanti-wanti soal satu hal: negara kesatuan bisa jadi bentuk baru dari penjajahan pusat terhadap daerah.

Saat Hatta Memilih Jalan yang Berbeda
​
Ketika Indonesia merdeka pada 1945, euforia menyelimuti semua pihak. Tetapi Bung Hatta tidak larut dalam romantisme “kesatuan bangsa” yang disuarakan Bung Karno. Ia memikirkan sesuatu yang lebih teknis, lebih struktural, dan lebih membumi: bentuk negara yang bisa menjamin keadilan dan keterwakilan semua wilayah.

Bagi Hatta, negara kesatuan terlalu riskan. Ia menulis dan menyampaikan berkali-kali bahwa bentuk itu membuka peluang bagi satu kelompok atau satu wilayah – terutama Pulau Jawa – untuk mendominasi yang lain.
“Negara kesatuan bisa menjadi alat hegemoni pusat atas daerah-daerah. Itu bukan cita-cita kemerdekaan,” ungkap Hatta dalam berbagai pidatonya, termasuk ketika menanggapi rancangan konstitusi pasca-KMB.
Pengaruh Eropa dan Realitas Nusantara
​

Mohammad Hatta bukan nasionalis sempit. Ia mengenyam pendidikan di Belanda dan aktif dalam Perhimpunan Indonesia, di mana ia banyak membaca filsuf-filsuf federalisme: dari gagasan federal Swiss, model otonomi di Jerman, hingga cara Belanda mengelola wilayah kekuasaannya (meski secara eksploitatif).

Namun gagasan federasi bukan hanya hasil studi Eropa. Hatta melihat langsung keragaman etnis, budaya, dan geografis Nusantara. Dalam catatan-catatannya, ia menyebut bahwa bangsa Minangkabau tidak sama dengan Bugis, bahwa Batak punya sistem adat berbeda dari Madura, dan bahwa Papua tidak bisa diperlakukan sebagai ‘daerah jauh’ yang hanya menunggu perintah pusat.
“Indonesia bukan satu bangsa, tetapi bangsa-bangsa. Kita menyatukannya bukan dengan menghapus perbedaan, tapi mengaturnya dengan adil,” tulis Hatta.
Picture
Peta Republik Indonesia Serikat
Republik Indonesia Serikat: Bukan Produk Belanda
​

Banyak yang salah kaprah bahwa Republik Indonesia Serikat (RIS) adalah bentukan Belanda, hasil politik pecah belah dari Konferensi Meja Bundar (KMB). Tapi sesungguhnya, RIS juga merupakan kompromi yang disepakati elite Indonesia, dan di baliknya ada Hatta.

Sebagai Wakil Presiden waktu itu, Hatta bukan boneka Belanda. Ia paham betul bahwa dengan membentuk negara serikat, 
Indonesia memberi ruang pada daerah untuk tumbuh dan menyatu secara sukarela, bukan karena paksaan pusat.
RIS memang berumur pendek. Hanya bertahan dari 1949 sampai 1950. Tetapi semangatnya, yakni membagi kekuasaan politik dan anggaran secara adil antara pusat dan daerah, tetap menjadi perdebatan abadi hingga hari ini.

Ketakutan Hatta: "Jawa Menjajah Indonesia" 

​
Hatta bukan anti-Jawa. Tapi ia sadar, realitas politik Indonesia sejak awal cenderung Jawa-sentris. Elite militer, birokrat, hingga pengambil keputusan ekonomi, banyak terpusat di Jakarta dan sekitarnya.
Dalam salah satu dokumen pidatonya, Hatta menyatakan:
“Kita tidak boleh membiarkan Pulau Jawa menjadi pengganti Belanda. Kalau kita bicara kemerdekaan, maka yang kita maksud adalah kemerdekaan semua wilayah, dari Sabang sampai Merauke.”

Ia bahkan sempat mengusulkan desentralisasi penuh, di mana setiap daerah memiliki hak mengelola sumber daya, pendidikan, kebudayaan, bahkan sistem perpajakannya sendiri.

Dekade Sentralisasi: Hatta Gagal?

Setelah RIS dibubarkan pada 17 Agustus 1950, Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan. Selama era Orde Lama hingga Orde Baru, kekuasaan dipegang erat oleh pusat. Hatta kecewa, tetapi tidak pernah berhenti bersuara.

“Jangan sampai Indonesia merdeka dari Belanda, tapi terjajah oleh Jakarta.”

Ia tetap menulis dan memberi masukan, termasuk dalam buku Demokrasi Kita (1957), yang menyuarakan perlunya struktur demokrasi partisipatif dari bawah ke atas—bukan sebaliknya. Hatta juga konsisten mengingatkan bahwa keadilan sosial tidak akan pernah tercapai jika kekuasaan dan anggaran hanya dikendalikan dari satu titik.

Relevansi di Era Reformasi

Baru setelah Reformasi 1998, gagasan Hatta mulai direhabilitasi. Indonesia mengadopsi desentralisasi dan otonomi daerah, yang di atas kertas memberi lebih banyak kuasa kepada provinsi dan kabupaten/kota.

Namun, seperti kata orang Minang: “ada kato, tak ado laku”. Realitasnya, banyak kebijakan strategis—dari infrastruktur, pertambangan, pendidikan, hingga anggaran dana desa—masih sangat tergantung dari Jakarta.

Kritik Hatta soal sentralisasi terbukti. Konflik di Papua, kemiskinan di NTT, eksploitasi sumber daya di Kalimantan dan Maluku, semua berakar pada ketimpangan relasi pusat-daerah.

Mengapa Kita Perlu Menggali Kembali Gagasan Hatta?

Karena di tengah seruan “merah putih harga mati”, kita sering lupa bahwa nasionalisme bukan pemaksaan seragam, melainkan pengakuan terhadap keberagaman.

Hatta mengajarkan bahwa kita bisa bersatu tanpa harus sama, dan bisa loyal kepada republik tanpa harus tunduk pada Jakarta. Ia bukan separatis. Ia justru ingin republik ini bertahan lama, dengan dasar yang kuat dan adil bagi semua.(*)
Powered by Create your own unique website with customizable templates.